|
Wacana |
|
www.bdpunib.org 27 Februari 2008 |
|
Penulis :
Masdar, Dr. Ir. M.Sc. Lahir di Simpang, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, 2 April 1960.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu
S1 : Faperta, Unand S2 : Mississippi State University, USA S3 : Unand |
|
Hubungan Luhur Kaum Muslimin Dengan Alam |
|
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Allahumma shalli wasallim ‘ala Muhammad, wa’ala alihi wa sahbihi ajmain.
Sebagai sesama makhluk yang tidak ingin masuk dalam daftar orang-orang tidak beriman, tulisan ini diawali dengan permohonan ampun kepada Allah. Semoga ayat-ayat suci yang disajikan berikut ini dapat menjadi ibrah (pelajaran) untuk siapapun (termasuk mereka yang suka berdiri di batas abu-abu) sebagai bahan renungan tanpa saling kafir mengkafirkan di antara kita. Hal yang pasti adalah bahwa Allah telah menetapkan nasib manusia di permukaan bumi ini, seperti terekspresi lewat nasib umat nabi Musa AS (Bani Israil). Bismillahirrahmanirrahim.
Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar (Bani Israil [17]:4)
Kata kunci pada ayat tersebut adalah “membuat kerusakan” dan “sombong”. Baik kata “membuat kerusakan” maupun kata “sombong” tampaknya berkonotasi tidak disukai Allah. Siapa saja yang mempunyai salah satu dari perilaku tersebut dijamin oleh Allah sebagai anggota kelompok orang yang tidak disukai Allah. Syaithan adalah contoh kasus, dengan prilaku “sombong” syaithan sudah diberi tiket gratis ke neraka. Hal ini tidak perlu dipertanyakan lagi. Sesungguhnya pertanyaan bagi kita adalah, apakah anda termasuk manusia yang menghendaki masuk dalam golongan orang yang tidak disukai Allah?. Tentu saja tidak. Sehubungan dengan itu, tulisan ini tepat anda baca, karena kita punya misi menyadarkan diri masing-masing agar berupaya terhindar golongan tersebut.
Sesungguhnya, dipandang dari konsep Islam, tidak ada daerah abu-abu. Dalam Islam, selalu ada batas yang jelas antara putih (benar) dan hitam (salah). Ciri khas kaum muslimin adalah selalu berusaha “tidak berbuat kerusakan” dalam arti sesungguhnya, bukan dengan diplomasi “seolah-olah tidak berbuat kerusakan”. Contoh yang dapat dikemukakan dalam kriteria “membuat kerusakan” antara membakar hutan dan industri yang memproduksi gas yang mengotori udara (dengan karbondioksida, karbon monoksida, metana dan lain-lain). Kenyataan bahwa lapisan ozon atmosfir bumi telah menganga sebesar antartika sehingga mencuat kasus “global warming”. Akibatnya, telah mulai mencairnya bongkahan es di kutub utara dan selatan. Semua fenomena itu adalah akibat perilaku manusia yang mengotori udara. Begitu juga, mereka mengebor bumi sehingga muncrat lumpur panas berkepanjangan, sehingga kosong bagian bawah lithosfir.
Membudidayakan padi dengan sengaja untuk memproduksi gas metan secara besar-besaran, barangkali bisa juga dikategorikan berbuat kerusakan. Kaum muslinin harus berusaha menghindar dari contoh perilaku di atas. Hari ini, tugas kita adalah berdo’a agar tidak dimasukkan Allah ke dalam golongan mereka yang yang berbuat kerusakan, karena berbuat kerusakan kelihatannya setara nilainya dengan orang-orang kafir (tidak beriman) di hadapan Allah. Bismillahirrahmanirrahim.
Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al-Qur'an, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Yunus [10]:40.
Kata kunci ayat tersebut di atas adalah “iman, tidak beriman, berbuat kerusakan”. Menariknya, Allah mensejajarkan orang-orang yang tidak beriman dengan orang-orang yang berbuat kerusakan. Barangkali saja perilaku berbuat kerusakan tidak identik dengan tidak beriman. Bahkan hakikatnya pun berbeda, berbuat kerusakan adalah “action” sedangkan tidak beriman adalah nilai kualitatif “isi dada” manusia. Dalam hubungan ini, jika manusia berbuat kerusakan di muka bumi akan mengantarkan muslimin pada muhasabah tentang hakikat keimanan yang ada dalam dada masing-masing.
Kata orang-orang bijak, bahwa alam ini bukan warisan nenek moyang, tetapi titipan anak cucu. Ungkapan pendek dari ungkapan tersebut sesungguhnya sederhana saja, yaitu: “alam jangan dirusak”. Dengan menyangkutkan dua ayat tersebut diatas, dapat kiranya diutarakan bahwa siapa saja yang merusak alam (berbuat kerusakan) niscaya disejajarkan Allah dengan orang-orang yang tidak beriman, dan pada gilirannya mereka akan masuk neraka. Kaum muslimin tentu saja tidak berada dalam barisan orang-orang tersebut, karena muslimin bersahabat dengan alam. Bismillahirrahmanirrahim.
Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang dari pada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kemewahan yang ada, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa (Q.S. Hud [11]:116).
Hari ini, jangankan untuk mencari tokoh panutan sehingga mencegah manusia berbuat kejahatan, untuk mendapatkan tokoh yang sekedar tidak berbuat kerusakan saja sangat sulit. Segera setelah seseorang dicalonkan untuk menjadi pemimpin oleh kelompok tertentu, kita saksikan ada saja pihak yang mempermaklumkan kesalahan-kesalahan masa silam (berbuat kerusakan) yang dilakukan tokoh tersebut. Sebaliknya, sangat mudah mengenal orang-orang yang mengapung dan segera populer, lengkap dengan kemewahan dunia yang digenggamnya. Padahal, ayat di atas dengan tegas menyatakan bahwa orang-orang yang lengkap dengan kemewahan di tangannya disejajarkan Allah dengan orang-orang berdosa. Pemahaman dasar dalam Islam adalah bahwa ujung perjalanan orang berdosa pasti di neraka. Dengan demikian, mereka tidak memadai untuk dijadikan pemimpin.
Bagi hati yang terbuka akan hidayah Allah, satu ayat Allah saja sudah lebih dari cukup. Sebaliknya, bagi hati yang tertutup akan hidayah Allah, seribu ayat masih tetap kurang. Allah mengamanahkan alam ini untuk kita, dan Allah telah memberi pedoman untuk kita dengan kalimat yang terang benderang. Allah mensejajarkan hukum bagi manusia yang berbuat kerusakan terhadap alam dengan orang-orang tidak beriman (kafir) dan orang-orang berdosa lainnya (calon penghuni neraka). Tentu ssaja kaum muslimin tidak termasuk di dalam kelompok tersebut. Akhirnya, terserah kepada kita masing-masing mau masuk golongan muslimin ataukah ingin masuk golongan orang-orang berdosa atau berbuat kerusakan. Allah telah memberi petunjuk, tidak ada alasan nanti di akhirat menyesal di hadapan Allah. Mohon maaf, billahi taufiq walhidayah.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. |



|
|
|
|